Fenomena pengangguran di Indonesia pada tahun 2025 tampaknya bukan cuma soal ekonomi dan lapangan kerja. Ada tren baru yang muncul dan bikin banyak pihak khawatir yaitu meningkatnya jumlah pengangguran yang kini menghabiskan waktu mereka bermain judi online.
Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 75% dari total pengangguran di Indonesia aktif bermain kegiatan ini, baik lewat ponsel maupun komputer. Angka ini jelas bikin banyak mata terbuka, karena menggambarkan bagaimana perubahan gaya hidup digital juga membawa dampak negatif.
Tingkat Pengangguran yang Terus Naik di 2025
Tahun 2025, ekonomi Indonesia memang sedang dalam masa transisi. Banyak sektor masih beradaptasi dengan perubahan global, mulai dari industri manufaktur, teknologi, sampai startup digital. Akibatnya, angka pengangguran mengalami peningkatan cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Indonesia per awal 2025 mencapai sekitar 6,5 juta orang. Angka ini naik dibandingkan tahun 2024 yang sempat berada di angka 5,8 juta.
Peningkatan ini disebabkan oleh beberapa faktor:
- Otomatisasi dan digitalisasi kerja yang membuat banyak posisi digantikan oleh teknologi.
- Penurunan investasi di sektor padat karya.
- Banyak lulusan baru yang belum terserap pasar kerja.
Masalahnya, di tengah sulitnya mencari pekerjaan, sebagian dari para pengangguran ini justru mencari “jalan cepat” untuk menghasilkan uang dan di situlah kegiatan ini masuk jadi alternatif semu.
Judi Online Jadi “Pelarian” di Tengah Sulitnya Cari Kerja
Kalau dulu hiburan pengangguran mungkin nongkrong, main game gratis, atau ikut proyek kecil-kecilan, sekarang beda.
Berkat mudahnya akses internet dan banyaknya situs serta aplikasi judi online, makin banyak orang yang menjadikan judi sebagai pelarian dari stres dan kebosanan.
Beberapa di antaranya bahkan menganggap kegiatan ini sebagai “pekerjaan.” Mereka bilang, “daripada nganggur, mending main slot, siapa tahu menang.”
Padahal, dalam kenyataannya, yang sering terjadi justru sebaliknya uang habis, utang menumpuk, dan situasi makin sulit.
Dari hasil survei kecil yang dilakukan oleh lembaga riset sosial di Jakarta, ditemukan bahwa:
Sekitar 75% pengangguran di Indonesia pernah mencoba atau rutin bermain Game ini, baik berupa slot, togel, maupun taruhan bola.
Yang menarik, sebagian besar pemain ini berada di rentang usia 18–35 tahun artinya kelompok muda yang sebenarnya masih sangat produktif.
Dari Kebutuhan Hiburan, Berubah Jadi Kecanduan
Awalnya banyak yang cuma coba-coba. Mereka tertarik karena iklan judi online makin marak di media sosial mulai dari TikTok, Instagram, sampai YouTube.
Promosi yang menjanjikan “mudah menang,” “cuan cepat,” dan “bisa main di mana saja” bikin banyak orang tergoda.
Namun lama-kelamaan, banyak yang terjebak dalam lingkaran kecanduan.
Setiap kali kalah, mereka berharap menang di ronde berikutnya. Setiap kali menang, mereka tergoda pasang taruhan lebih besar.
Sampai akhirnya uang tabungan, uang pinjaman, bahkan uang keluarga ikut habis untuk hal yang sama.
Banyak cerita muncul di media sosial tentang orang-orang yang kehilangan segalanya gara-gara kegiatan ini. Bahkan beberapa pengangguran muda mengaku kalau mereka udah “malas cari kerja,” karena merasa bisa “hidup dari judi.”
Ekonomi Digital Bagai Pedang Bermata Dua
Perkembangan teknologi digital memang membawa banyak manfaat. Tapi di sisi lain, kemudahan akses internet juga membuka pintu bagi praktik ilegal seperti judi.
Platform ini sering kali bersembunyi di balik iklan game online atau situs streaming palsu.
Ironisnya, banyak pemain judi berasal dari kalangan yang sebenarnya paham teknologi. Anak muda, mahasiswa drop-out, atau mantan pekerja startup yang terbiasa dengan dunia digital.
Mereka merasa nyaman bermain karena gak perlu keluar rumah, gak ketahuan, dan bisa diakses 24 jam.
Dengan kondisi ekonomi yang belum stabil, kegiatan ini pun jadi jalan pintas yang salah kaprah.
Beberapa orang berharap bisa “menang besar” untuk memperbaiki nasib, padahal faktanya mayoritas justru makin terpuruk.
Dampak Sosial yang Semakin Terlihat
Meningkatnya jumlah pengangguran yang bermain judi online juga mulai terasa dampaknya di masyarakat.
Mulai dari meningkatnya utang pribadi, konflik keluarga, sampai kasus kejahatan kecil seperti pencurian dan penipuan yang dilakukan untuk menutupi kekalahan berjudi.
Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Wenny Rahmawati, menjelaskan bahwa fenomena ini berbahaya karena menurunkan semangat kerja generasi muda.
“Judi online memberi ilusi keberhasilan instan. Padahal yang terjadi adalah siklus kalah-menang yang memicu stres, depresi, dan hilangnya motivasi untuk berusaha di dunia nyata.”
Beberapa daerah bahkan melaporkan adanya peningkatan kasus gangguan mental ringan hingga berat pada kelompok usia produktif karena tekanan finansial akibat judi.
Pemerintah Mulai Bertindak, Tapi Tantangannya Gak Mudah
Melihat situasi yang makin parah, pemerintah Indonesia mulai memperketat pengawasan dan memblokir ribuan situs judi online setiap bulannya.
Namun masalahnya, situs-situs ini muncul kembali dengan nama dan domain berbeda hanya dalam hitungan jam.
Kementerian Kominfo bahkan bekerja sama dengan OJK dan Kepolisian untuk menindak jaringan transaksi keuangan ilegal yang terkait judi online.
Tapi tetap saja, selama ada permintaan, penawaran akan selalu muncul.
Apalagi dengan banyaknya pengangguran yang menganggap judi sebagai “sumber penghasilan alternatif,” masalah ini jelas gak akan selesai dalam waktu singkat.
Solusi
Kalau mau mengurangi fenomena ini, kuncinya bukan cuma penindakan, tapi juga pemberian peluang ekonomi nyata.
Banyak anak muda sekarang yang sebenarnya punya kemampuan digital bagus, tapi gak tahu harus digunakan ke mana.
Pelatihan kerja, dukungan UMKM, dan program ekonomi kreatif bisa jadi solusi agar mereka punya arah positif.
Selain itu, perlu juga edukasi digital yang lebih kuat bukan cuma soal cara menggunakan internet, tapi juga cara menggunakan internet dengan bijak.
Beberapa komunitas relawan sudah mulai mengadakan kampanye online bertajuk “Kerja Nyata Lebih Baik dari Judi Dunia Maya” yang mengajak anak muda untuk kembali fokus ke skill dan karier.
Kesimpulan
Tahun 2025 membawa tantangan besar buat Indonesia, terutama dalam hal pengangguran dan maraknya judi online.
Ketika dua hal ini berjalan beriringan, dampaknya bisa fatal: generasi muda kehilangan arah, ekonomi rumah tangga terguncang, dan moral sosial perlahan menurun.
Fakta bahwa 75% pengangguran aktif bermain judi online jadi peringatan keras bagi semua pihak bukan cuma pemerintah, tapi juga masyarakat dan keluarga.
Sudah saatnya pendekatan terhadap pengangguran gak cuma soal cari kerja, tapi juga bimbingan mental dan edukasi digital agar mereka gak terjerumus dalam “dunia maya yang menipu.”
Karena pada akhirnya, gak ada kemenangan sejati di meja judi online yang ada cuma keberuntungan sesaat, lalu kekalahan panjang.
Dan kalau bangsa ini mau bangkit, generasi mudanya harus diarahkan bukan ke “betting site”, tapi ke peluang nyata di dunia kerja dan usaha.
ENTERPURGATORIO — platform ter update seputar Berita iGaming, Rekomendasi Game Dan Review Game Paling HITS

